Showing posts with label CERITA MENARIK. Show all posts
Showing posts with label CERITA MENARIK. Show all posts

Wednesday, March 3, 2010

Kisah Cinta Sebenar!

Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani Aku Memulakan entry Kali Ini. 

Awwalan, aasif jiddan lianna lambat untuk publish entry ini berdasarkan tarikhnya. Namun, masih ingin juga disampaikan kerna 
"Better Late Than Never" 

 Sebermulalah...

Inilah Kisah Cinta Sebenar. Sejati. Hakiki. Cinta yang sudah berbalas. Cinta yang patut dikejar. KEJAR!!!
Ditagihi. Kerna, Cinta ini hadir Untuk Kita. Buat Kita. Milik Kita. Selagimana kita membalas Cinta itu. INGAT!

Mari Kita Selami Kisah Cinta Ini. Romantis tetapi bukan drama mahunpun movie. Ini Kisah Benar! Ini Cinta Benar! 

"Kejarlah Cinta Yang Berbalas"

Detiknya! 
Detik Lahir 

Dan Wafat   

 itulah detiknya... ketika mana detik itu ditarikhkan 12!

Sebelum itu, minat saya untuk pause sejenak. 

Allahumma Solli 'Ala Saiyidina Muhammad
 -selawat sebentar-

 Teruskan Kembali...


Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang

dicontohi Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun

langit telah mulai menguning, burung2 gurun enggan mengepakkan

sayapnya. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan

khutbah, Wahai ummatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta

kasih-Nya. Maka taati dan bertaqwalah kepadaNya. Kuwariskan dua

perkara pada kalian;



Al-Quran dan Sunnahku. Barang siapa mencintai

sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-

orang yang mencintaiku, akan masuk ke dalam

syurga bersama-sama ku.



Khutbah singkat diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang

dan penuh minat menatap sahabatnya satu-persatu.

Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik

turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghelakan nafas

panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.



Isyarat itu telah datang , saatnya sudah tiba. Rasullullah akan

meninggalkan kita semua, keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas

menangkap

Rasulullah yang dalam keadaan lemah dan goyah ketika turun dari

mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana

pasti akan

menahan detik-detik yang berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu

rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang

terbaring

lemah dengan keningnya yang keringat dan membasahi pelepah kurma

yang menjadi alas tidurnya.



Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan

salam. Bolehkah saya masuk? tanyanya. Tapi Fatimah tidak

mengizinkannya masuk, Maafkanlah, ayahku sedang demam. Kata Fatimah

yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani

ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya kepada Fatimah,

Siapakan itu wahai anakku? Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru

sekali ini melihatnya. Tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap

puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah

bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. Ketahuilah,

dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan

pertemuan di dunia. Dialah Malakul Maut. Kata Rasulullah. Fatimah pun

menahan ledakkan tangis.



Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa

Jibril tidak ikut sama menyertainya .. kemudian dipanggilah Jibril



yang sebelumnya sudah bersiap sedia di atas langit dunia menyambut ruh

kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah? Tanya Rasulullah

dengan suara yang amat lemah.

Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruh mu.

Semua syurga terbuka lebar menanti kedatangan mu..

Kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega,

matanya masih penuh kecemasan.

Engkau tidak senang mendengar khabar ini?tanya Jibril lagi. Khabarkan

kepada ku bagaimana nasib umatku kelak?

Jangan khuwatir, wahai Rasulullah, aku pernah mendengar Allah

berfirman kepadaku:

' kuharamkan syurga bagi sesiapa saja, kecuali umat Muhammad telah

berada di dalamnya, kata Jibril.



Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan

ruh Rasulullah ditarik.

Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya

menegang.

Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini. Perlahan Rasulullah

mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang

disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkn muka.

Jijikkah kau melihatku, hingga

kau palingkan wajahmu Jibril? Tanya Rasulullah pada Malaikat

pengantar wahyu itu.

Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal, kata

Jibril.



Sebentar kemudian, terdengar Rasulullah mengerang, kerana sakit yang

tidak tertahankan lagi. Ya Allah, dahsyat nian maut ini,

timpakan saja semua seksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak

lagi.

Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera

mendekatkan telinganya. Uushiikum bis shalati, wa maa malakat

aimanuku-

Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.



Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling

berpelukkan. Fatimah menutupkan tangan diwajahnya dan Ali kembali

mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

Ummatii, ummatii, ummatii- Umatku, seorang manusia yang mulia yang

memberi sinaran

itu.



Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?



Allahumma sholi ala Muhammad wa baarik wa salim alaihin.. betapa

cintanya Rasulullah kepada kita.



Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim yang lain agar timbul

kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan

RasulNya mencintai kita. Kerana, sesungguhnya selain daripada itu

hanya fana belaka.
 

Saturday, October 24, 2009

Al-Kisoh Kiyai menjawab Soalan


Ada seorang pemuda yang lama sekolah di negeri paman Sam kembali ke tanah air. Sesampainya dirumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang Guru agama, kiai atau siapapun yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya, pemuda itu mendapatkan orang tersebut.Pemuda: Anda siapa? Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?

Kyai: Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan anda

Pemuda: Anda yakin? sedang Profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab pertanyaan saya.

Kyai: Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya

Pemuda: Saya punya 3 buah pertanyaan

1) Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2) Apakah yang dinamakan takdir
3) Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat dari api,tentu tidak menyakitkan buat syetan Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba Kyai tersebut menampar pipi si Pemuda dengan keras.

Pemuda (sambil menahan sakit): Kenapa anda marah kepada saya?

Kyai: Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang anda ajukan kepada saya

Pemuda: Saya sungguh-sungguh tidak mengerti

Kyai: Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda: Tentu saja saya merasakan sakit

Kyai: Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?

Pemuda: Ya

Kyai: Tunjukan pada saya wujud sakit itu !

Pemuda: Saya tidak bisa

Kyai: Itulah jawaban pertanyaan pertama: kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kyai: Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?

Pemuda: Tidak

Kyai: Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?

Pemuda: Tidak

Kyai: Itulah yang dinamakan Takdir

Kyai: Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?

Pemuda: kulit

Kyai: Terbuat dari apa pipi anda?

Pemuda: kulit

Kyai: Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda: sakit

Kyai: Walaupun Syeitan terbuat dari api dan Neraka terbuat dari api, Jika Tuhan berkehendak maka Neraka akan Menjadi tempat menyakitkan untuk syeitan.

.'. kadang2 persoalan itu tidak memerlukan jawapan(retoris) dan kadang2 jawapan itu tidak memerlukan ungkapan.

Saturday, September 26, 2009

5 perkara yang aneh

Abu Laits as-Samarqandi adalah seorang ahli fiqh yang masyur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara Nabi-nabi yang bukan Rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara. Maka salah seorang Nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi, "Esok engkau dikehendaki keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke barat. Engkau dikehendaki berbuat, pertama; apa yang engkau lihat (hadapi) maka makanlah, kedua; engkau sembunyikan, ketiga; engkau terimalah, keempat; jangan engkau putuskan harapan, yang kelima; larilah engkau daripadanya."

Pada keesokan harinya, Nabi itu pun keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata, "Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tapi sungguh aneh sesuatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan."
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghampirinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Maka Nabi itu pun mengambilnya lalu disuapkan ke mulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur 'Alhamdulillah'.

Kemudian Nabi itu meneruskan perjalanannya lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya supaya disembunyikan, lantas Nabi itu pun menggali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu pun menanamkannya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi itu, "Aku telah melaksanakan perintahmu." Lalu dia pun meneruskan perjalanannya tanpa disedari oleh Nabi itu yang mangkuk emas itu terkeluar semula dari tempat ia ditanam.

Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, "Wahai Nabi Allah, tolonglah aku." Mendengar rayuan burung itu, hatinya merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan ke dalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu pun datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, "Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku."

Nabi itu teringatkan pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, iaitu tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil tadi dilepaskan dari dalam bajunya. Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjalannya. Tidak lama kemudian dia bertemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya, maka dia pun bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidungnya. Setelah menemui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi ke rumahnya. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, "Ya
Allah, aku telah pun melaksanakan perintah-Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepadaku erti semuanya ini."

Dalam mimpi beliau telah diberitahu oleh
Allah s.w.t. bahawa, "Yang pertama engkau makan itu ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi pada akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta menahannya, maka marah itu pun akan menjadi lebih manis daripada madu. Kedua semua amal kebaikan (budi), walaupun disembunyikan, maka ia tetap akan nampak jua. Ketiga jika sudah menerima amanah seseorang, maka janganlah kamu khianat kepadanya. Keempat jika orang meminta kepadamu, maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kau sendiri berhajat. Bau yang busuk itu ialah ghibah (menceritakan hal seseorang). Maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah."

Saudara-saudaraku, kelima-lima kisah ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, sebab kelima-lima perkara ini sentiasa sahaja berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata-mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita, sebab ada sebuah hadis mengatakan di akhirat nanti ada seorang hamba
Allah akan terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya, "Wahai Allah, sesungguhnya pahala yang Kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu."

Maka berkata
Allah s.w.t., "Ini adalah pahala orang yang mengata-ngata tentang dirimu." Dengan ini haruslah kita sedar bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tetapi kata-mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, hendaklah kita jangan mengata hal orang walaupun ia benar.

wallahu'alam...

Monday, March 16, 2009

Soal Seorang pemuda....

Ada seorang pemuda mempunyai persoalan yang merunsingkan pemikirannya. Jadi dia ambil keputusan untuk bertanya pada tok imam di kampungnya.

Pemuda: Saya ada tiga soalan yang ingin bertanya pada tok imam:

Soalan pertama; Tunjukkan saya dimana tuhan??

Soalan kedua; Apa yang dimaksudkan dengan takdir?

Soalan ketiga; Syaitan dan neraka diperbuat daripada api, tetapi mengapakah syaitan dicampak kedalam neraka dan bukannya kedalam air?

Lalu tok imam menampar pemuda tersebut dan berkata.

Tok imam: Tamparan ini untuk menjawab ketiga-tiga soalan tadi, sakit tak tamparan itu?

Pemuda: Tentulah sakit!

Tok imam: Boleh tunjukkan rasa sakit itu?

Pemuda tersebut terdiam dan itulah jawapan untuk soalan pertama tadi.

Tok imam: Saya nak tanya adakah malam tadi saudara bermimpi saya akan menampar saudara atau telah tahu saya akan menampar saudara?

Pemuda: Tidak!

Jadi, itulah yg dinamakan takdir, soalan kedua sudah pun terjawab.

Tok imam: Tangan ini diperbuat daripada apa ya?

Pemuda: Tanah!

Tok imam: Jadi tamparan tadi menunjukkan pertembungan antara tanah dan tanah dan itu juga menyakitkan. Jadi, syaitan juga akan berasa kesakitan jika di humban kedalam api.

Terjawab sudah soalan ketiga.

Lalu pemuda itu pulang ke rumah dengan penuh keinsafan.

Pengajaran dari kisah ini, jangan mempersoal dan meragui kekuasaan Allah Subhanahu Wa Taala.

Sunday, February 8, 2009

GARAM &TELAGA

GARAM &TELAGA

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.


Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..", ujar Pak tua itu. "Pahit. Pahit sekali", jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu.


Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, "Bagaimana rasanya?". "Segar.", sahut tamunya. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi. "Tidak", jawab si anak muda. Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.


"Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu." Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. "Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan." Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu.
Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan "segenggam garam", untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa

AIR MENDIDIH

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan: mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru. Ayahnya, seorang koki, membawanya ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya. Lalu ia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, nak?" "Wortel, telur, dan kopi" jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras. Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi.




Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas. Setelah itu, si anak bertanya, "Apa arti semua ini, Ayah?" Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak. Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras. Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut. "Kamu termasuk yang mana?," tanya ayahnya. "Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya? Apakah kamu wortel, telur atau kopi?" Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.
Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut?

Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku? Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat Celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat. Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan di sekitarmu juga membaik.

Tuesday, August 5, 2008

aBU hANIFAH vS pARA aTHEIS

saja2 nak kongsi apa yg ana jumpa....leh rujuk mereka2 yang lebih arif....wallahua'lam


Imam Abu Hanifah Rahimahullah

Menangkis Serangan Para Atheis

I.Kapan Allah itu ada?

Atheis :Pada tahun berapa Robbmu dilahirkan?
Abu Hanifah :Allah berfirman: “Dia (Allah) tidak melahirkan dan tidak dilahirkan.”

Atheis :Pada tahun berapa Dia berada?
Abu Hanifah :Dia berada sebelum adanya sesuatu.

Atheis :Kami mohon diberi contoh yang lebih jelas dari kenyataan!

Abu Hanifah :Angka berapa sebelum angka empat?
Atheis :Angka Tiga
Abu Hanifah :Angka berapa sebelum angka tiga?
Atheis :Angka dua
Abu Hanifah :Angka berapa sebelum angka dua?
Atheis :Angka satu
Abu Hanifah :Angka berapa sebelum angka satu?
Atheis :Tidak ada angka .

Abu Hanifah :Kalau sebelum angka satu tidak ada angka lain yang mendahuluinya, kenapa kalian heran kalau sebelum Allah Yang Maha Satu yang hakiki, tidak ada yang mendahului-Nya?

II.Maksud Allah Menghadap Wajahnya

Atheis: Kemana Robbmu menghadapkan wajahnya?

Abu Hanifah: Kalau kalian membawa lampu di gelap malam,kemana lampu itu menghadapkan wajahnya?
Atheis: Ke seluruh penjuru.

Abu Hanifah: Kalau demikian halnya dengan lampu yang cuma
buatan itu, bagaimana dengan Alloh Ta′ala, nur cahaya langit dan bumi?.

III.Zat Allah SWT

Atheis: Tunjukkan kepada kami tentang zat Robbmu, apakah ia benda padat seperti besi, atau cair seperti air, atau menguap seperti gas?

Abu Hanifah: Pernahkah kalian mendampingi orang sakit yang akan meninggal?
Atheis: Ya, pernah.

Abu Hanifah: Semula ia berbicara dengan kalian dan mengge rak-gerakkan anggota tubuhnya. Lalu tiba-tiba diam dan tidak bergerak.Nah apa yang menimbulkan perubahan itu?
Atheis: Karena rohnya telah meninggalkan tubuhnya.

Abu Hanifah: Apakah waktu keluarnya roh itu kalian masih ada disana?
Atheis: Ya, kami masih ada

Abu Hanifah:Ceritakanlah kepadaku, apakah rohnya itu benda padat, seperti besi, atau cair seperti air, atau menguap seperti gas?
Atheis: Entahlahlah kami tidak tahu.

Abu Hanifah: Kalau kalian tidak bisa mengetahui bagaimana zat maupun bentuk roh yang hanya sebuah makhluk, bagaimana kalian bisa memaksaku untuk mengutarakan zat Allah Ta′ala?!!

IV.Dimana Allah SWT

Atheis: Dimana kira-kira Robbmu itu berada?
Abu Hanifah: Kalau kami membawa segelas susu segar ke sini, apakah kalian yakin kalau dalam susu itu terdapat zat minyaknya (lemak)
Atheis: Tentu

Abu Hanifah: Tolong perlihatkan padaku, dimana adanya Zat minyak itu
Atheis: Membaur dalam seluruh bagiannya
Abu Hanifah: Kalau minyak yang makhluk itu tidak mempunyai tempat khusus dalam susu tersebut, apakah layak kalian meminta kepadaku untuk menetapkan tempat Alloh ta′ala?

V.Takdir Allah SWT

Atheis: Kalau segala sesuatu sudah ditakdirkan sebelum diciptakan, lalu apa kegiatan Robbmu kini?
Abu Hanifah: Ada pekerjaan-Nya yang dijelaskan dan ada pula yang tidak dijelaskan

Atheis: Kalau orang masuk syurga ada awalnya, kenapa tidak ada akhirnya? Kenapa di syurga kekal selamanya?
Abu Hanifah: Hitungan angka pun ada awalnya tapi tidak ada akhirnya

Atheis: Bagaimana kita bisa makan dan minum disyurga tanpa buang air besar dan kecil?
Abu Hanifah: Kalian sudah mempraktekkannya ketika kalian berada di dalam perut ibu kalian. Hidup dan makan-minum selama sembilan bulan, akan tetapi tidak pernah buang air kecil dan besar disana.Baru kita lakukan hajat tersebut setelah keluar beberapa saat ke dunia.

Atheis: Bagaimana kebaikan syurga akan bertambah dan tidak akan habis-habisnya jika dengan dinafkahkan?
Abu Hanifah: Allah juga menciptakan sesuatu di dunia, yang bila dinafkahkan malah bertambah banyak,seperti ilmu. Semakin diberikan ilmu kita semakin berkembang dan tidak berkurang.

VI.Bukti Adanya Allah

Atheis: Perlihatkan bukti keberadaan Robbmu kalau memang dia ada

Abu Hanifah ra berbisik kepada khadamnya agar mengambil tanah liat, lalu dilemparkannya tanah liat itu ke kepala pemimpin orang atheis itu . Para hadirin gelisah melihat peristiwa itu, khawatir terjadi keributan, tetapi Abu Hanifah menjelaskan bahwa hal ini dalam rangka untuk menjelaskan jawaban yang di minta kepadanya.

Hal ini membuat orang atheis mengenyitkan dahi,

Abu Hanifah: Apakah lemparan itu menimbulkan rasa sakit di kepala anda?
Atheis: Ya, tentu saja.

Abu hanifah: Dimana letak sakitnya?
Atheis: Ya, ada pada luka ini.

Abu Hanifah: Tunjukkanlah padaku bahwa sakitnya itu memang ada, baru akan menunjukkan kepadamu dimana Robbku!

Orang atheis itu tidak menjawab tentu saja tidak bisa menunjukkan rasa sakitnya, karena itu adalah suatu rasa dan ghaib tapi rasa sakit itu memang ada.

Atheis: Baik dan buruk sudah ditakdirkan sejak azal, tetapi kenapa ada pahala dan siksa?
Abu hanifah: Kalau anda sudah mengerti bahwa baik dan buruk itu bagian takdir, mengapa anda kini menuntut aku agar di hukum karena melempar tanah liat ke dahi anda? bukankah perbuatan itu bagian dari takdir?

Akhirnya perdebatan itu berakhir dengan masuk Islamnya para atheis tersebut di tangan Al Imam abu hanifah rahimahullah. wallahua'lam...

Friday, June 6, 2008




Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju Mekah....... .aku bertanya pada Ibu. "Ibu, ada cerita apa yang menarik dari Umrah....?" Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah.





Dan Ibu, memberikan Tausyiahnya. Ibu adalah pemilik Maknah Tour Travel dimana saya menunaikan untuk Umrah di bulan July 2007 yang lalu.Kebetulan umrahku dimulai di Madinah dulu selama 4 hari, baru ke Mekah.Tujuannya adalah mendapatkan saat Malam Jumat di depan Kabah. Jadi aku mempunyai kesempatan untuk bertanya tentang Umrah.





Ibu berkata..."Luqman, Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup.."Keningku berkerut.... ....


"Sedikitnya Allah memanggil kita..?"Ibu tersenyum.





"Iya, tahu tidak apa 3 panggilan itu..?"


Saya menggelengkan kepala. "Panggilan pertama adalah Azan", ujar Ibu. "Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar. Ketika kita solat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih tenang, Dia tidak "cepat marah" akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak solat sama sekali kerana malas. Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab panggilan Azan-Nya atau tidak. Allah hanya akan membalas umatNya ketika hari Kiamat nanti".



Photobucket



Saya terpaku.... .mata saya berkaca-kaca. Terbayang saya masih melambatkan solat kerana meeting lah, sibuk berurusan dengan rakan sekelaslah, dan lain lain. Masya Allah....... ..


Ibu menyambung, "Luqman, Panggilan yang kedua adalah panggilan Umrah/Haji. Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya "bergiliran" . Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeza dengan hamba yang lain. Jalannya bermacam-macam. Yang tidak punya wang menjadi punya wang, yang tidak merancang pula akan pergi, ada yang memang merancang dan terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafazkan "Labaik Allahuma Labaik", sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allah yang ke dua. Saat itu kita merasa bahagia, kerana panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali. Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu".





Mata saya semakin berkaca-kaca. ........Subhanallah...... .saya datang menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya rancangkan.. .....Alhamdulillah...


"Dan panggilan ke-3", lanjut Ibu, "adalah KEMATIAN.


Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebiasaan, Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan. Kita hanya menjawabnya dengan amal soleh.



Kerana itu Luqman, manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. ..Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah.... .......Insya Allah syurga adalah balasannya.. ..."


Mata saya basah di dalam Masjid Nabawi , saya sujud bertaubat pada Allah kerana kelalaian saya dalam menjawab panggilanNya. ....Kala itu hati saya makin yakin akan kebesaranNya, kasih sayangNya dan dengan semangat menyala-nyala, saya mengenakan kain Ihram dan berniat..... ....Aku menjawab panggilan UmrahMu, ya Allah, Tuhan Semesta Alam........

(adaptasi dari luahan seorang insan kepada manusia)

Saturday, April 26, 2008

Kisah ulamak dan pramugari...

Seorang ulamak sedang berada di dalam sebuah kapal terbang untuk ke sebuah negeri.




Apabila tiba waktu solat, dia pun ke tandas untuk berwudhuk. Oleh kerana tandas di dalam kapal terbang terlalu kecil, maka beliau terpaksa membuka pintu tandas itu ketika berwudhu.




Tatkala beliau mengangkat salah satu dari kakinya ke tangki (washing basin), seorang peramugari telah ternampak perbuatan ulamak itu dan menegurnya.




Peramugari: (dengan suara dikeraskan..) Tuan tidak boleh memasukkan kaki ke dalam tangki tu, sebab ia akan mengotorkan tangki. Ini tempat basuh muka bukan basuh kaki.




Ulamak: (dengan suara lembut dan penuh rendah diri...) Berapa kali saudari mencuci muka saudari dalam satu hari?
Peramugari: (dengan sifat angkuh...) Kebiasaannya sekali atau dua kali dalam sehari.




Ulamak: (dengan sifat bersahaja....) Saya mencuci kaki saya lima kali dalam sehari, bererti kaki saya lebih bersih dari muka saudari.....

DIALOG 2

Dialog Ayam & Lembu

Ayam : Manusia ni memang pentingkan diri sendiri!
Lembu : Kenapa kau kata macam tu?
Ayam : Tengoklah. Apa mereka buat kat aku!
Lembu : Hah! Buat apa pulak?
Ayam : Aku ni bertelur hari-hari. Aku cadang naklah dapat anak dua tiga ekor. Orang kata ada juga waris aku bila aku dah tak de nanti. Tapi
manusia ni memang tak berhati perut. Hari-hari dia orang makan telor aku, macamana aku nak dapat anak!
Lembu : Alah! Kau punya masaalah kecil aja!
Ayam : ?? Maksud kau?
Lembu : Aku ni, kalau fikirkan nasib aku lagi malang. Rasa nak bunuh diri pun ada. Bayangkan, hari-hari manusia minum susu aku tapi sorang pun tak pernah panggil aku MAK!
Ayam : ?? (Dalam hati: Tak boleh pakai punya lembu!)

DIALOG 1

LEMBU: Hai anjing, apa habaq? Macam ada yg tak kena je?

ANJING: Aku tengah tension nih. Mau je aku gigit manusia tadi.

LEMBU : Eh? kenapa?

ANJING: Aku lalu tepi dua orangmanusia lelaki dan perempuan yang sedang berkepit. Tetiba si lelaki terperanjat dan terus melompat dan berkata "Hoi anjing, pergi jauh-jauh,najis!".

LEMBU: Ya, lah. Ko kan haram. Najis tahap berat bagi manusia. Biasalah tu.

ANJING: Kalau aku najis sekali pon,kalau dia tersentuh aku, boleh disamak. Yang dia sentuh dan raba-raba awek dia tu apa? Boleh ke nak samak dosa?

LEMBU: Betul tu. Memegang wanita yg bukan mahramnya tanpa ikatan yg sah,lebih dahsyat kenajisannya daripada memegang ko anjing, malah tak boleh suci sekalipun disamak.

ANJING: Wah.. ayat ko memang powerla... manusia kena ubah pepatah "Pandai macam LEMBU"

Sedikit Penjelasan:Daripada satu hadis yang diriwayatkan daripada ibnu majah menyatakan bahawa "Bergomolan dengan babi(khinzir) itu adalah lebih baik berbanding dengan bersentuhan (secarasengaja) dengan wanita yang bukan mahram". Bersentuhan (dengan sengaja &apatah lagi bertujuan syahwat)adalah berdosa dan wajib bertaubat (bagimembersihkan dosa). Sedangkan menyentuh anjing tidaklah berdosa dan hanya perlu disuci (bukan bertaubat).Menyentuh anjing bukanlah satu kesalahan (dosa) atau maksiat. Tetapi,menyentuh wanita bukan mahram adalah berdosa dan merupakan maksiat.

Di dalam satu riwayat hadis yang lain yang maksudnya, "Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya'. (Riwayat At Tabrani danBaihaqi) "Katakanlah lagi (kepadanya): Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orangyang dapat mengambil pelajaran dan peringatan hanyalah orang-orang yang berakal sempurna". (Surah Zumar: 9)


Anda Mungkin Meminat | You May Interest

Related Posts with Thumbnails